all about bali

Tak Sekadar Alat Penerangan, Lilin Jadi Gaya Hidup

Posted on: September 20, 2008

Sekitar tiga abad lalu, lentera mulai disadari manfaatnya sebagai alat penerangan di saat gelap. Pada jaman itu, bahan yang dijadikan alat penerang berasal dari bahan lemak hewan yang digunakan sebagai minyaknya. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan biasanya adalah lemak sapi. Dalam perkembangannya, lemak hewan yang dipakai berupa sarang lebah yang dilumatkan sebagai bahan bakarnya. Alasan pemanfaatan bahan ini karena selain lebih bersih asapnya, juga beraroma wangi.

Bahan itulah yang kemudian disebut sebagai lilin yang sering dijadikan alat penerangan tradisional. Lilin merupakan sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti bahan bakar padat. Pada masa sekarang yang biasa digunakan sebagai bahan baku lilin disebut dengan parafin.

Selama berabad abad, penggunaan lilin telah menjadi suatu kebutuhan dan simbol kehidupan. Seiring perkembangan agama, lilin digunakan dalam berbagai kegiatan ibadat yang dihubungkan dengan keesaan. Selain itu, lilin juga digunakan dalam sebuah perayaan, seperti peringatan kelahiran. Lilin pada awalnya diperkenalkan bangsa Mesir kuno dengan memanfaatkan cairan lemak hewan ternak ke dalam kulit buah kering.

Bangsa China dan Jepang, membuat lilin dari serangga dan biji bijian yang dibungkus kertas. Lilin yang berasal dari sulingan cinnamon biasanya juga dipakai di dalam kuil kuil di India. Dalam agama Budha, terdapat banyak digunakan dalam kuil kuil dan pagoda. Kemudian di Amerika Selatan, lilin dibuat dari getah pohon palem atau tumbuhan lain, seperti daun candelila, dan rumput esperato. Bangsa Amerika juga membuat obor dari lemak ikan yang ditempelkan pada ujung kayu.

Ritual keagamaan

Sementara bangsa Romawi terkenal sebagai penemu lentera, meletakkan rumput kering sebagai sumbunya. Di kalangan agama Katolik lilin dikenal pada abad ke-7, sebagai bagian dari prosesi. Baru sekitar abad ke-11 lilin dinyalakan di altar. Mungkin ini disebabkan mulai digunakannya aroma lilin yang terdapat dalam beeswax. Bahan dari sarang lebah ini tidak menimbulkan asap tebal atau bau pada saat terbakar. Pada abad ke-14 pembuatan lilin menjadi kegiatan resmi, penjualannya pun marak hingga pintu ke pintu.

Sampai abad ke-15, semua lilin dibuat dengan proses pencelupan berubah karena ditemukan cara baru, yaitu dengan proses pemadatan. Mulai abad ke-16 permintaan lilin semakin tinggi karena kesejahteraan hidup makin meningkat. Apalagi perkembangan industri ikan paus pada abad ke-18 membawa perubahan besar dalam industri lilin di abad pertengahan dengan ditemukannya spermaceti. Bahan yang tidak menimbulkan bau saat dibakar ini diperoleh dari kristalisasi minyak sperma paus yang dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Pada tahun 1800-an, ahli kimia dari Perancis menemukan bahan lilin dari minyak bumi padat yang disebut parafine. Minyak bumi (petroleum), yang juga dijuluki sebagai emas hitam adalah cairan kental, berwarna coklat gelap atau kehijauan, dan mudah terbakar. Melalui proses distilasi, minyak bumi yang terdiri dari senyawa hidrogen dan karbon (hidrokarbon), kemudian diolah lagi menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dan lain-lain.

Jadi gaya hidup

Dari proses tersebut mulailah lilin parafine diproduksi secara massal dan industrial. Sejak abad ke-19, parafine merupakan lilin yang paling sederhana, murah, dan mudah dalam segi pembuatan. Tahun 1834, Joseph Morgan memperkenalkan mesin pembuat lilin yang menggunakan silinder dan piston, yang kemudian dipatenkan.
Di Indonesia, lilin diperkenalkan orang-orang Portugal yang pada saat itu datang untuk mencari rempah-rempah. Sejak saat itu, lilin berkembang untuk kelengkapan ibadah, acara tertentu seperti ulang tahun, penyambutan tamu, relaksasi dan sebagainya. Bahkan menyimpan lilin di rumah sampai saat ini masih menjadi budaya masyarakat kita, khususnya dijadikan cadangan ketika lampu padam.

Di penghujung abad ke-20, lilin semakin berkembang dan berevolusi dengan baik, mulai dari bahan baku, bentuk atau model, bahkan fungsinya. Di tangan para perajin, lilin dapat diolah dan dicetak menjadi beraneka bentuk. Bahan yang dulunya cukup dengan parafine mulai digantikan dengan stearine. Sejak ditemukannya bahan stearine atau ada yang menyebutnya CPO (Crude Palm Oil) dan jenis lemak lainnya, yaitu micro wax, bee wax, gell, maka bahan lilin semakin beragam.

Selain untuk penerangan, lilin yang berasal dari lemak hewan seperti rumah lebah digunakan dalam proses membatik di daerah Jawa. Kain batik dibuat dengan teknik resist menggunakan material lilin untuk membentuk motifnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin (malam) dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain.

Kemudian kain yang telah dilukis dengan lilin dicelup dengan warna yang diinginkan. Biasanya dimulai dari warna-warna yang muda, lalu pencelupan dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin tersebut.

Dengan penemuan bola lampu pada abad ke-20 dan menyebarnya penerangan listrik, saat ini lilin lebih banyak digunakan untuk keperluan yang bersifat kebetulan dan tertentu, misalnya ketika adanya pemadaman aliran listrik, dalam ritual keagamaan, perayaan ulang tahun, pewangi ruangan, aromaterapi dan sebagainya.

Semua bahan lilin memiliki karakteristik masing-masing sehingga dapat dikombinasikan untuk membentuk artifisial alam seperti bunga, buah, kayu, dan bentuk geometris yang biasanya berkesan sederhana dan serupa dengan aslinya. Sedangkan kini, orang menyimpan lilin tidak lagi sebagai cadangan mati lampu, tetapi untuk koleksi yang memiliki fungsi sebagai gaya hidup (life style), estetika ruangan, menciptakan suasana dan meningkatkan kesan berkelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: