all about bali

Alas Kedaton terletak di desa Kukuh Kecamatan Marga + 4 km dari kota Tabanan. Pura ini mempunyai dua keunikan yang sangat menarik. Pertama memiliki empat pintu masuk ke dalam Pura yaitu dari barat yang merupakan pintu masuk utama yang lainnya dari Utara, Timur dan dari Selatan yang kesemuanya menuju ke halaman tengah. Keunikan yang kedua adalah halaman dalam yang merupakan tempat yang tersuci justru letaknya lebih rendah dari halaman tengah dan luar. Tempat suci ini dikelilingi oleh hutan yang dihuni oleh sekelompok kera yang dianggap keramat. Disamping itu pula terdapat sekelompok kalong yang hidup bergantungan di dahan-dahan pohon kayu yang besar dan sewaktu-waktu beterbangan, merupakan suatu atraksi yang sangat menarik bagi wisatawan baik bagi wisatawan Nusantara maupun mancanegara.
Upacara piodalan di Pura ini adalah jatuh pada hari Selasa (Anggara Kasih) dau puluh hari setelah Hari Raya Galungan. Yang mana upacara dimaksud dimulai pada siang hari dan harus sudah selesai sebelum matahari terbenam. Pura ini sering pula disebut Pura Alas Kedaton atau Pura Dalem Kahyangan.

Kesan pertama melihat daerah Tabanan adalah kawasan yang hijau dan subur. Lekukan perbukitan dan pegunungan di batas utara dengan Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan seolah menggambarkan daerah Tabanan yang senantiasa berlimpah air. Iklim dan cuaca yang sejuk serta kemiringan lahan yang landai dari pegunungan di sisi utara hingga ke wilayah pesisir di sisi selatan membuat Tabanan amat unggul dalam hal pertanian tanah basah maupun perkebunan. Tabanan utara, mulai kawasan Bedugul adalah penghasil buah dan sayuran sedangkan Tabanan tengah dan selatan merupakan penghasil beras berkualitas baik.
Dengan luas wilayah 893,33 km2 Tabanan dibagi menjadi 10 kecamatan. Walaupun peluang penghidupan di sektor pariwisata dan sektor lainnya amat terbuka, sebagian besar penduduk Tabanan masih bertahan di lahan garapan mereka. Berkurangnya tenaga penggarap di bidang pertanian, karena bekerja sektor lain, disikapi dengan pola bertani secara modern dan efisien. Karena itu, hingga kini Tabanan tetap menjadi tumpuan pemasok kebutuhan pangan bagi Bali.

Sesuai dengan kondisi alamnya, Tabanan mengedepankan wisata alam dan pertanian sebagai potensi unggulannya di bidang pariwisata. Kawasan Tanah Lot, Penebel, Jati Luwih, Pupuan, Antosari, dan Bedugul adalah tempat-tempat yang senantiasa dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang rindu pada keindahan alam.

Tags:

Sekitar tiga abad lalu, lentera mulai disadari manfaatnya sebagai alat penerangan di saat gelap. Pada jaman itu, bahan yang dijadikan alat penerang berasal dari bahan lemak hewan yang digunakan sebagai minyaknya. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan biasanya adalah lemak sapi. Dalam perkembangannya, lemak hewan yang dipakai berupa sarang lebah yang dilumatkan sebagai bahan bakarnya. Alasan pemanfaatan bahan ini karena selain lebih bersih asapnya, juga beraroma wangi.

Bahan itulah yang kemudian disebut sebagai lilin yang sering dijadikan alat penerangan tradisional. Lilin merupakan sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti bahan bakar padat. Pada masa sekarang yang biasa digunakan sebagai bahan baku lilin disebut dengan parafin.

Selama berabad abad, penggunaan lilin telah menjadi suatu kebutuhan dan simbol kehidupan. Seiring perkembangan agama, lilin digunakan dalam berbagai kegiatan ibadat yang dihubungkan dengan keesaan. Selain itu, lilin juga digunakan dalam sebuah perayaan, seperti peringatan kelahiran. Lilin pada awalnya diperkenalkan bangsa Mesir kuno dengan memanfaatkan cairan lemak hewan ternak ke dalam kulit buah kering.

Bangsa China dan Jepang, membuat lilin dari serangga dan biji bijian yang dibungkus kertas. Lilin yang berasal dari sulingan cinnamon biasanya juga dipakai di dalam kuil kuil di India. Dalam agama Budha, terdapat banyak digunakan dalam kuil kuil dan pagoda. Kemudian di Amerika Selatan, lilin dibuat dari getah pohon palem atau tumbuhan lain, seperti daun candelila, dan rumput esperato. Bangsa Amerika juga membuat obor dari lemak ikan yang ditempelkan pada ujung kayu.

Ritual keagamaan

Sementara bangsa Romawi terkenal sebagai penemu lentera, meletakkan rumput kering sebagai sumbunya. Di kalangan agama Katolik lilin dikenal pada abad ke-7, sebagai bagian dari prosesi. Baru sekitar abad ke-11 lilin dinyalakan di altar. Mungkin ini disebabkan mulai digunakannya aroma lilin yang terdapat dalam beeswax. Bahan dari sarang lebah ini tidak menimbulkan asap tebal atau bau pada saat terbakar. Pada abad ke-14 pembuatan lilin menjadi kegiatan resmi, penjualannya pun marak hingga pintu ke pintu.

Sampai abad ke-15, semua lilin dibuat dengan proses pencelupan berubah karena ditemukan cara baru, yaitu dengan proses pemadatan. Mulai abad ke-16 permintaan lilin semakin tinggi karena kesejahteraan hidup makin meningkat. Apalagi perkembangan industri ikan paus pada abad ke-18 membawa perubahan besar dalam industri lilin di abad pertengahan dengan ditemukannya spermaceti. Bahan yang tidak menimbulkan bau saat dibakar ini diperoleh dari kristalisasi minyak sperma paus yang dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Pada tahun 1800-an, ahli kimia dari Perancis menemukan bahan lilin dari minyak bumi padat yang disebut parafine. Minyak bumi (petroleum), yang juga dijuluki sebagai emas hitam adalah cairan kental, berwarna coklat gelap atau kehijauan, dan mudah terbakar. Melalui proses distilasi, minyak bumi yang terdiri dari senyawa hidrogen dan karbon (hidrokarbon), kemudian diolah lagi menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dan lain-lain.

Jadi gaya hidup

Dari proses tersebut mulailah lilin parafine diproduksi secara massal dan industrial. Sejak abad ke-19, parafine merupakan lilin yang paling sederhana, murah, dan mudah dalam segi pembuatan. Tahun 1834, Joseph Morgan memperkenalkan mesin pembuat lilin yang menggunakan silinder dan piston, yang kemudian dipatenkan.
Di Indonesia, lilin diperkenalkan orang-orang Portugal yang pada saat itu datang untuk mencari rempah-rempah. Sejak saat itu, lilin berkembang untuk kelengkapan ibadah, acara tertentu seperti ulang tahun, penyambutan tamu, relaksasi dan sebagainya. Bahkan menyimpan lilin di rumah sampai saat ini masih menjadi budaya masyarakat kita, khususnya dijadikan cadangan ketika lampu padam.

Di penghujung abad ke-20, lilin semakin berkembang dan berevolusi dengan baik, mulai dari bahan baku, bentuk atau model, bahkan fungsinya. Di tangan para perajin, lilin dapat diolah dan dicetak menjadi beraneka bentuk. Bahan yang dulunya cukup dengan parafine mulai digantikan dengan stearine. Sejak ditemukannya bahan stearine atau ada yang menyebutnya CPO (Crude Palm Oil) dan jenis lemak lainnya, yaitu micro wax, bee wax, gell, maka bahan lilin semakin beragam.

Selain untuk penerangan, lilin yang berasal dari lemak hewan seperti rumah lebah digunakan dalam proses membatik di daerah Jawa. Kain batik dibuat dengan teknik resist menggunakan material lilin untuk membentuk motifnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin (malam) dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain.

Kemudian kain yang telah dilukis dengan lilin dicelup dengan warna yang diinginkan. Biasanya dimulai dari warna-warna yang muda, lalu pencelupan dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin tersebut.

Dengan penemuan bola lampu pada abad ke-20 dan menyebarnya penerangan listrik, saat ini lilin lebih banyak digunakan untuk keperluan yang bersifat kebetulan dan tertentu, misalnya ketika adanya pemadaman aliran listrik, dalam ritual keagamaan, perayaan ulang tahun, pewangi ruangan, aromaterapi dan sebagainya.

Semua bahan lilin memiliki karakteristik masing-masing sehingga dapat dikombinasikan untuk membentuk artifisial alam seperti bunga, buah, kayu, dan bentuk geometris yang biasanya berkesan sederhana dan serupa dengan aslinya. Sedangkan kini, orang menyimpan lilin tidak lagi sebagai cadangan mati lampu, tetapi untuk koleksi yang memiliki fungsi sebagai gaya hidup (life style), estetika ruangan, menciptakan suasana dan meningkatkan kesan berkelas.

Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan yang datang ke Pulau Bali khususnya ke Kabupaten Gianyar, pelaku kepariwisataan harus mampu menyediakan dan mengembangkan bermacam–macam atraksi yang diperlukan untuk konsumsi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

Untuk mengantisipasi hal itu kini di Desa Blangsinga, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya di lembah Air Terjun Tegenungan, telah berdiri Bungge Jumping, yaitu tempat atraksi bagi wisatawan yang senang terjun dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Tempat ini sangat tepat untuk atraksi karena alam sekitarnya masih asli dan areal terjunnya leluasa, sehingga kemungkinan bahaya yang timbul sangat kecil. (sumber http://www.baliprov.go.id)

Kabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal era Majapahit.
Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata.

Gianyar  juga terkenal dengan objek-objek wisata. Misal kawasan wisata Goa Gajah, Tampak Siring, Gunung Kawi, Kawasan Wisata Gajah di Desa Taro, Bali Zoo Park, pusat-pusat perbelanjaan kerajinan seni, seperti Pasar Seni Sukawati dan Guang serta berbagai obyek wisata lainnya. Demikian juga aktivitas agama, adat dan budaya, sudah menjadi keseharian masyarakat Gianyar, hingga menarik bagi wisatawan sebagai atraksi wisata budaya

Untuk hasil Pertanian, Kabupaten seni ini tidak kalah dengan kabupaten lainnya. Hingga kini Gianyar masih mampu mempertahankan produksi beras dan hasil komoditi pertanian lainnya. Keseniannya ini tentu tak lepas dari kerja keras pemerintah dan masyarakat yang memiliki semangat tinggi untuk membangun.

From the island of god, this is natural spa product that has come to define Bali as the centre of the holistic spa experience. Reflecting the scared balance of Balinese spices, we have sourced elements used in this product from the varied terrain of the island. arsa Exotic spa as a company which attempt spa product sector, among others

– Message Oil
– Essential Oil
– Fragrance Oil
– Bath, Body Scrub
– Shampoo
– Conditioner
– Shower Gel (Bath Gel)
– Bath Foam
– Bath Oil
– Hydrating Mist
– Body Lotion
– Body mask

all of them are made from natural spices with hight quality and processed by people who really pay attention to hygienic. we expand the natural product which not change the natural characteristic of those species so they are scure for sensitive skin and secure to use in short term and long term. for view our product please visit http://www.arsahandicraft.wordpress.com for request price email to sales@arsahandicraft.com No limit capacities, and guarantee time schedule

Kini di pulau dewata Bali, telah hadir taman safari ketiga di Indonesia. Taman Safari ini punya nama internasional Bali Safari and Marine Park. Taman yang masih gres ini terletak di Desa Lebih, kabupaten Gianyar. Gianyar merupakan kota yang menjadi pusat budaya dan kesenian Bali, berjarak hanya 30km dari tempat pariwisata terpopuler di Bali, Pantai Kuta. Terletak pula di jalur strategis pulau Bali, yaitu tepatnya berada di jalan bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km 19,8.

Taman safari ini dihadirkan oleh Taman Safari Indonesia dan telah diresmikan oleh Gubernur Bali Dewa Beratha pada 9 Oktober 2007 yang lalu.

Taman Safari Bali ini akan memberikan pengalaman yang sungguh berbeda kepada siapa saja yang mengunjunginya karena menyajikan sebuah kombinasi yang begitu unik antara kehidupan alam liar dengan pengaruh budaya Bali yang kuat. Taman yang punya total luas 40 hektar ini dilengkapi dengan kendaraan khusus yang siap mengantarkan pengunjung untuk berinteraksi dengan kurang lebih 400 binatang yang terdiri atas 80 spesies dari 3 kawasan yang berbeda yaitu dari Indonesia, India dan Afrika.

Konsep bersafari yang ditawarkan sangat berbeda, di mana semua pengunjung dapat menikmati kehidupan satwa dan alamnya dengan menaiki mobil-mobil yang telah disiapkan secara khusus. Sebagai permulaan dari penjelajahan seru ini, pengunjung akan disambut dengan koleksi Kerbau Jawa dan Harimau Putih yang berasal dari benteng Ranthambore, India.

Taman Safari Bali ini tentunya dilengkapi dengan beberapa fasilitas menarik yang bisa membikin betah para pengunjung di sana. Yang utama tentunya yaitu koleksi binatang liarnya yang semuanya ditempatkan dalam habitat yang alami. Selain itu terdapat pula beberapa fasilitas penunjang lainnya seperti arena rekreasi yang menarik, Fun Zone, teater Bali yang menakjubkan, cottage dan bungalow yang siap digunakan bagi pengunjung yang ingin menginap di sana dan tentunya terdapat pula beberapa restoran yang menyajikan beragam makanan.

Untuk masuk, pengunjung dikenakan biaya Rp75.000,- per orang bagi turis domestik sedangkan untuk turis asing mendapat tarif beda, sebesar US$25 per orang. Kawasan Fun Zone disediakan khusus untuk anak-anak berusia maksimal 10 tahun di mana mereka bisa mencoba beberapa arena bermain yang bertarif Rp10 ribu sekali main seperti Mery Go Round, Clumbing Car dan Go Go Bouncer. Pengunjung juga bisa mencoba menunggang kuda poni atau unta dengan tarif Rp20 ribu, sedangkan untuk berkeliling dengan menunggang gajah selama 30 menit dikenai tarif Rp100 ribu. Seperti di taman safari lainnya juga, pengunjung bisa berfoto dengan beberapa binatang dengan cukup membayar Rp20 ribu. Bagi yang ingin berenang juga disediakan arena Water Park dengan tiket masuk Rp20 ribu per orang.

Tempat makan di sini punya keistimewaan tersendiri karena semua langsung berlatar belakang lokasi taman safari yang berpemandangan indah. Yang paling istimewa tentunya restoran Tsavo Lion yang bernuansa Afrika. Restoran yang terletak di Mara River Safari Lodge, yang juga merupakan tempat tinggal dari para singa. Dengan adanya dinding kaca yang mengitari bagian luar restoran ini maka pengunjung berkesempatan menikmati sajian mereka, ditemani dengan seringaian binatang karnivora tepat di sebelahnya.

Selain menjadi tempat berwisata yang menyenangkan, taman safari juga menjadi tempat perkembang-biakan bagi hewan-hewan yang terancam punah di mana dikenal dengan istilah tempat konservasi ex-situ. Sekarang ini Taman Safari Bali akan mencoba mengembang-biakan harimau putih dari India yang sangat langka. Dalam areal wisata tersebut juga disuguhkan berbagai nuansa budaya Bali, Sulawesi dan India.